Di tengah rehat takbiran, beliau menyampaikan keresahannya tentang krisis orang-orang yang mau dan mampu menjalankan dan memimpin ritual-ritual keagamaan di kampung, mulai dari yang memandikan jenazah jika ada yang meninggal, memimpin sholat berjamaah, adzan di musholla, memimpin tradisi/ritual aqiqah, dan memimpin tadarrus-an setelah tarawih. Saya hanya bisa mendengarkan dengan seksama bercampur kesedihan yang mendalam. Seolah-olah ada suara dari hati saya, seharusnya saya yang memikul dan meringankan beban guru saya yang sudah beruban banyak itu. Para Kyai di kampung sudah banyak yang wafat, sementara penerusnya tidak sebanyak yang wafat.
Ketika malam takbiran Idul Fitri kemarin, saya menyempatkan ngobrol dengan guru ngaji saya waktu kecil. Beliau adalah orang yang me...
Pulang Kampung dan Praktisi Fiqh
Di tengah rehat takbiran, beliau menyampaikan keresahannya tentang krisis orang-orang yang mau dan mampu menjalankan dan memimpin ritual-ritual keagamaan di kampung, mulai dari yang memandikan jenazah jika ada yang meninggal, memimpin sholat berjamaah, adzan di musholla, memimpin tradisi/ritual aqiqah, dan memimpin tadarrus-an setelah tarawih. Saya hanya bisa mendengarkan dengan seksama bercampur kesedihan yang mendalam. Seolah-olah ada suara dari hati saya, seharusnya saya yang memikul dan meringankan beban guru saya yang sudah beruban banyak itu. Para Kyai di kampung sudah banyak yang wafat, sementara penerusnya tidak sebanyak yang wafat.
Taman Kalijodo Dulu, ketika musim kampanye Pilpres 2014, publik sempat dibuat geleng kepala oleh Ketua Umum DPN Srikandi Gerindra, Nur...
Sunan Kalijodo dan Permainan Legitimasi Publik
![]() |
| Taman Kalijodo |
Dulu, ketika musim kampanye Pilpres 2014, publik sempat dibuat geleng kepala oleh Ketua Umum DPN Srikandi Gerindra, Nurcahaya Tandang yang keseleo lidah menyebut Prabowo sebagai titisan Allah. Akhirnya beliau minta maaf atas ketidaksengajaan itu. Musim kampanye memang musim menggilanya para die harder calon-calon pejabat publik. Pilgub DKI Jakarta pun tak terhindar dari kegilaan ini, bahkan ada yang melangkah terlalu jauh dengan membawa label-label dari tradisi keagamaan untuk munjustifikasi kelayakan calon gubernur untuk dipilih.
Aksi Damai 212 Subuh pagi, suasana di sebuah ibu kota negara tak seperti biasanya, jamaah memadati masjid-masjid. Nampak banyak wajah b...
Jangan Pernah Kau Hentikan Gelombang!
![]() |
| Aksi Damai 212 |
Subuh pagi, suasana di sebuah ibu kota negara tak seperti biasanya, jamaah memadati masjid-masjid. Nampak banyak wajah baru. Bukan karena ada taubat masal, tapi memang wajah-wajah itu datang dari berbagai penjuru negeri; dari mulai perkotaan sampai kampung-kampung tak dikenal di luar ibu kota. Wajah-wajah teduh itu mewakili manusia-manusia yang terpanggil oleh gema suara hati nurani.
Menjelang waktu dhuha, berduyun-duyun manusia dengan wajah yang berseri-seri memadati angkutan-angkutan umum di dalam ibu kota. Wajah mereka pun baru. Seolah-olah terjadi urbanisasi besar-besaran ke arah ibu kota. Tapi bukan untuk mencari sesuap nasi atau sebongkah berlian. Tak tahu juga, apakah memang motif mereka masuk dalam teori Maslow atau tidak.
Menjelang siang, ramai wajah-wajah tadi bertemu di masjid-masjid ibu kota. Saling sapa dan seolah-olah mereka pernah bertemu sebelumnya. Seperti saudara jauh yang lama tak jumpa. Malah lebih dari itu. Tepatnya seperti saudara sekaligus kawan senasib sepenanggungan. Bukan senasib dalam masalah yang sehari-hari dibicarakan orang: harta dan kedudukan. Tapi senasib dan sepenanggungan dalam hal apa yang mereka agungkan dan ikuti selama ini, Firman Tuhan mereka dilecehkan.
Takbir berkumandang. Khutbah digemakan. Sholat didirikan. Masjid-masjid di pusat ibu kota, pusat kekuasaan sesak. Jum’at keramat!
Sementara itu, di istana tempat sang raja berkuasa sudah sesak pula dengan wajah-wajah baru. Nampaknya tambahan pasukan pengaman kekuasaan didatangkan dari luar ibu kota. Mencekam. Bukan karena ada perang. Bukan karena ada ancaman teroris. Tapi ada eskpresi ketakutan yang tak beralasan atas nama stabilitas negara.
***
Salam kedua diucapkan berjuta jamaah. Sejenak riuh rendah muncul. Berhamburan ke jalan-jalan manusia dengan wajah-wajah yang cerah. Berbaris. Bersiap. Berjalan menuju istana sang raja.
Allahu Akbar, Allahu Akbar. Suara bergema dari masjid-masjid ibu kota.
Awalnya setetes embun. Embun yang segar. Kemudian menjadi sepercik air. Menyatu. Mengalir. Menjadi deras. Akhirnya membadai layaknya gelombang di samudera luas.
Satu. Sepuluh. Seratus. Seribu. Sejuta. Lebih! Riuhnya melebihi The Great March on Washington! Manusia-manusia itu berbaris. Menyongsong kehormatan membela Firman Tuhan, kata agamawan. Menyongsong idealisme yang tak bisa ditakar oleh akal, kata kaum moralis. Menyongsong medan juang yang mengharu biru, kata para patriotis.
“Satu kata, tegakkan keadilan! Hukum penista agama!” pekik seseorang di barisan paling depan. “Telah datang dari ujung timur dan barat negeri ini. Di antara kita ada yang datang dari kota nan jauh di sana. Menyeberangi lautan. Menempuh daratan panjang. Meninggalkan anak istri, saudara, kerabat, bahkan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilannya. Apakah mereka merugi? Sekali lagi, apakah mereka merugi? Tidak sama sekali. Mereka menjawab panggilan kehormatan dari Tuhan semesta alam. Ini bukan masalah perbedaan ras dan agama, ini adalah masalah kehormatan membela kalam ilahi dan menegakkan keadilan yang dicita-citakan oleh semua bangsa di dunia!” lanjutnya panjang.
Orang yang lain maju. “Walaupun muncul seribu candekiawan membela penista, seribu ahli bahasa menafsirkan ucapan penista bahwa dia tidak berniat melakukan penistaan, seribu raja melindungi penista, seribu hartawan membentengi penista, seribu pengabar berita memperindah sosok penista, seribu pasukan menghalangi kita, gelombang pencari keadilan tidak akan pernah berhenti bergemuruh sampai penegak keadilan benar-benar menegakkan keadilan! Jika tidak, kamilah yang akan menegakkan keadilan! Walaupun langit runtuh esok hari, keadilan harus ditegakkan! Tidak ada tempat bagi ketidakadilan!”
Kali ini sosok dengan wajah teduh maju. “Wahai penista, datanglah kepada hukum sebelum hukum datang kepadamu. Waktumu sudah habis. Walau muncul seribu agamawan yang bersikeras membelamu, dan mereka mencela kami, niscaya kami tidak akan berhenti. Kami adalah embun yang telah menjadi gelombang. Dariku untukmu dan para pembelamu: Jangan pernah kau hentikan gelombang!”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Ya. Gelombang. Seperti air bah yang menenggelamkan kaum Nuh. Seperti air laut yang menelan Fir’aun. Tak bisa dihentikan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Takbir kali ini bukan takbir hari raya yang penuh kegembiraan. Bukan takbir malaikat rahmat. Takbir kali ini adalah takbir malaikat zabaniyah. Takbir yang membuat para pengkhianat dan pengecut bersembunyi di sudut-sudut ruang gelap. Takbir yang membuat kaum moralis pengagum Mahatma Gandhi terkaget-kaget. Takbir yang membuat para cendikiawan yang biasa berdebat di mimbar-mimbar ilmiah terbelalak.
Takbir ini, sekali lagi, memberikan pesan kepada para intelektual, para penganjur kedamaian semu, para pengabar berita manusia, para raja-raja dunia dan para pengawalnya: Jangan pernah kau hentikan gelombang! Kau takkan sanggup. Ini bukan tentang siapa yang lebih kuat. Ini tentang kebenaran abadi yang akan menembus zaman dan sanubari seluruh manusia.
***
Di sudut ruangan, masih di kota yang sama, seseorang meringkuk gemetar. Gemelutuk giginya terdengar. Entah dia percaya Tuhan atau tidak, tapi dia merasa Tuhan sedang menghukumnya. Terbayang semua kata-katanya. Dia sadar, kata-katanya hendak dijadikan saingan Firman Tuhan dalam menilai kebenaran. Dia menyesal. Dia memutuskan undur diri dari ruang publik. Mengutuki dirinya sendiri. Sendiri, tanpa puja-puji lagi.
Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok Saya lebih sreg menyebut nama aslinya. Sebutan Ahok bagi saya terlalu friendly . Sementara saya tida...
Basuki dan Kegilaan*
![]() |
| Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok |
Saya lebih sreg menyebut nama aslinya. Sebutan Ahok bagi saya terlalu friendly. Sementara saya tidak terlalu mengenal beliau. Hanya tahu beliau sebagai Gubernur DKI Jakarta yang punya efek ‘wow’ sejak awal menjabat karena menggantikan Gubernur DKI sebelumnya, Joko Widodo. Ketika bertemu pertama kali secara langsung di kampus saya dulu pun bukan untuk berbicara tentang latar belakang dan identitas beliau, tapi tentang ‘atraksi’ dan capaiannya sebagai gubernur.
Basuki dalam perspektif sebagian orang adalah orang yang berani tampil apa adanya dalam memimpin. Ia melakukan banyak ‘kegilaan’ yang revolusioner, baik itu kegilaan tindakan maupun ucapannya. Banyak pejabat yang indisipliner sudah dipecat olehnya. Reformasi birokrasi yang dilakukan olehnya sangat akrobatik; memangkas perijinan yang terjangkiti birokratisme, transparansi kerja lewat video, membangun budaya lelang jabatan yang dinilai lebih adil, sampai peningkatan kualitas pelayanan administrasi publik dengan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Selain itu, sungai-sungai di Jakarta, disinyalir oleh Google, menjadi bersih karena Basuki. Adapun terkait ucapannya, sebagian orang menilainya ketegasan, alih-alih ucapan amoral walaupun identik dengan ucapan-ucapan uneducated people.
Tentunya kegilaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang yang sudah bosan dengan tipe kepemimpinan yang biasa-biasa saja. Sebagian mungkin merasa sudah banyak kegilaan di dunia politik yang perlu diperbaiki oleh orang yang lebih gila lagi.
Tapi kegilaan jangan sampai diberi sorak sorai dan dukungan yang menggila. Kegilaan tanpa koreksi akan menjadi kegilaan buta. Ini yang menjadi bahaya dalam kekuasaan. Ide sosialisme Marx itu gila. Tapi tanpa kritik dalam kekuasaan yang menopang sosialisme (otoriter proletar) menciptakan bencana kemanusiaan yang tidak terkendali. Semangat dan keberanian Soekarno itu gila. Tapi tanpa kritik Soekarno menjelma menjadi gila kuasa di akhir masa kepemimpinannya. Basuki itu punya banyak tindakan dan ucapan gila. Tapi tanpa kritik dan selalu berlindung di belakang tameng citra kesempurnaan dan tiada bandingannya itu akan menjadi bencana kegilaan buta bagi Jakarta.
Kegilaan Basuki perlu diberi komparasi. Pendukung kegilaan Basuki jangan sampai tergila-gila sampai lupa berpikir kritis dan enggan mencari pembanding. Penolak kegilaan Basuki juga jangan sampai marah-marah menggila dan tidak memberikan alternatif pemimpin yang gilanya lebih ‘efektif’ dan ‘efisien’; gilanya lebih tepat sasaran tanpa ada ekses negatif yang lebih besar.
Menolak fakta Basuki memiliki prestasi dalam memimpin Jakarta adalah kegilaan yang naif dan blunder. Sama halnya menolak fakta bahwa Basuki dikecam banyak masyarakat karena isu SARA yang ia hembuskan dan menyulut keretakan toleransi juga merupakan kegilaan yang naif. Di samping itu, meniadakan kegagalan Basuki dalam penanggulangan banjir, pengurangan kemacetan, dan penertiban PKL dan pemukiman liar secara bermartabat merupakan kegilaan yang buta. Meniadakan tersangkutnya Basuki dalam kasus korupsi ‘Sumber Waras’ dan ‘Reklamasi’ juga kegilaan yang akut.
Jakarta tetap perlu kegilaan. Tapi kegilaan yang baru. Gila ide dan kontribusi. Ide atau gagasan calon Gubernur akan terlihat pada kampanye-kampanye monologis maupun dialogis. Kontribusi, etos kerja, dan profesionalitas akan terlihat pada rekam jejak. Tentunya rekam jejak karir, bukan rekam jejak dalam memimpin Jakarta. Suatu kekonyolan dan kegilaan yang naif jika masih ada yang berkutat pada pembicaraan rekam jejak dalam memimpin Jakarta karena pesaing Basuki tidak ada yang pernah memimpin Jakarta. Ini bukan apple to apple.
Mengganggap Basuki tak ada bandingannya dalam memimpin Jakarta itu boleh jadi bagi sebagian orang benar. Tapi itu sebelum ada calon gubernur yang lain. Setelah ada calon gubernur yang lain, maka anggapan itu menjadi kultus yang tentunya hanya ilusi sebagian orang malang yang mengharap datang atau bertahannya Ratu Adil yang tanpa cacat dan akan menyelesaikan semua hal yang menggila di Jakarta.
Biarkanlah kegilaan ide atau gagasan dikontestasikan oleh calon-calon gubernur. Pemilih jangan sampai menggila dalam dukung mendukung. Pemilih harus tetap waras. Jika semua menggila, siapa lagi yang akan menciptakan check and balance dalam pemerintahan?
*Artikel ini dimuat dalam situs selasar.com dengan link https://www.selasar.com/politik/basuki-dan-kegilaan
Mazhab mu’tazilah sebagai mazhab aqidah ultra rasionalis dalam Islam nampaknya perlu merevisi pendapatnya yang menyatakan bahwa akal dapat m...
Al-Qur’an, Akhir Ramadhan, dan Pergerakan Esensi Kepribadian
Teisme atau kepercayaan terhadap adanya Tuhan yang merupakan asas dalam Islam (La Ilaha Illallah) diruntuhkan begitu saja oleh akal. Jadi saya kira perlu porsi besar teks dalil dari Al-Qur’an untuk menjadi patokan mencari kebenaran dalam menjalani hidup sebagaimana diyakini mazhab asy’ariyyah. Walau demikian, akal tetap bisa menentukan kebenaran walau kadang keliru karena menyelisihi Al-Qur’an sebagaimana diyakini mazhab maturidiyyah.
Skeptis atau meragukan sesuatu merupakan batu loncatan untuk banyak hal, diantaranya sikap kritis dan dialektika ide atau gagasan. Dulu, par...
Dunia Skeptis*
Dalam tulisan ini saya ingin mengulas pemikiran menarik yang lahir dari sikap skeptis kemudian pemikiran tersebut melahirkan sikap skeptis lagi yaitu rasionalisme dan empirisme. Keduanya menarik terutama dalam kaitannya dengan eksistensi Tuhan.
Manusia sebagai zoon politicon (makhluk berpolitik) tentunya tidak akan terlepas dari kehidupan politik itu sendiri. Bagaimanapun seseorang...
Ide Islam Politik*
Debat agama dan politik dalam Islam mulai muncul di era kejatuhan Turki Utsmani. Politik sebagai ilmu juga baru muncul sekitar era tersebut. Sayangnya era tersebut adalah era merosotnya budaya literasi Islam sehingga yang mendominasi pemikiran politik –sampai sekarang- adalah pemikiran politik eropa sentris yang notabennya banyak lahir dari perjuangan melawan hegemoni gereja atas negara semasa maraknya sistem monarki absolut.
Akibat dominasi pemikiran politik eropa sentris dan realitas politik yang semakin kotor oleh perilaku para politisi dan birokrat, pemikir dan ulama muslim banyak yang merubah cara pandangnya terhadap politik. Politik yang pada masa Rasulullah sampai era kekhalifahan Turki Utsmani digunakan sebagai sarana dakwah sekaligus di dalamnya terdapat substansi ajaran Islam –seperti masalah kepemimpinan/imamah dll- mulai dipandang sebagai hal yang sangat duniawi dan harus dijauhi oleh orang salih. “Inni tubtu minas siyasah”; “Sesungguhnya aku taubat dari politik,” kata Muhammad Abduh.
Kemerdekaan bangsa yang merupakan kemerdekaan kolektif selalu diawali oleh kemerdekaan individu. Sebelum proklamasi kemerdekaan, jiwa-jiwa m...
Membangun Mental Merdeka
Tidak ada satu kekuatan pun yang membuat para pejuang menjadi fatalis, menyerah terhadap keadaan. Bagi mereka, hidup dengan identitas yang jelas sebagai bangsa Indonesia yang majemuk dan kaya akan budaya, hidup secara berdikari dalam keadaan ekonomi serba terbatas, dan hidup dengan pilihan yang bebas sesuai nilai-nilai yang mengakar pada masyarakat Indonesia adalah suatu kehormatan yang patut diperjuangkan.
Sekarang idealisme menjadi kata yang dianggap terlalu suci dan normatif, substansinya mustahil ada wujudnya secara sempurna, atau bahkan tid...
Memikul Idealisme
Tapi kita tidak perlu khawatir, itu hanya pandangan sebagian orang saja. Tidak semuanya. Walaupun memang sebagian pandangan itu ada relitanya yang menimpa para aktivis. Bukan, lebih tepatnya mantan aktivis. Atau terkadang pandangan itu yang menghantui para aktivis ketika mereka dihadapkan dengan urusan mereka sendiri dan urusan masyarakat. Karena terlalu takut akan kesulitan hidup yang menimpa akhirnya mereka memilih jalan kompromi. Pada akhirnya mereka tidak banyak lagi berbicara masalah masayarakat, apalagi bangsa dan negara, tapi lebih banyak berbicara diri dan keluarga.




Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances